KONAWE – Sehari menjelang pelaksanaan Seri 2 KCR Konawe Cup Race 2026 di kawasan STQ Unaaha, Sabtu-Minggu (18–19 Juli 2026), penyelenggara justru menuai kritik tajam. Bukan karena lintasan atau persaingan para rider, melainkan akibat minimnya transparansi dan tertutupnya informasi kepada publik.
Hingga H-1 pelaksanaan, panitia belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kesiapan penyelenggaraan, mulai dari aspek keselamatan peserta, pengamanan penonton, kesiapan layanan kesehatan, hingga mekanisme pelaksanaan kegiatan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana kesiapan event yang diperkirakan akan menyedot perhatian masyarakat.
Sejumlah wartawan mengaku kesulitan memperoleh informasi resmi dari panitia. Berbagai upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun permintaan wawancara tidak mendapat respons. Bahkan, pantauan di lokasi kegiatan juga belum menemukan satu pun perwakilan panitia yang bersedia memberikan penjelasan kepada publik.
Padahal, keterbukaan informasi merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan sebuah event yang menggunakan fasilitas publik dan melibatkan banyak peserta serta penonton. Sikap tertutup panitia justru memunculkan berbagai spekulasi yang seharusnya dapat dihindari apabila komunikasi dilakukan secara terbuka.
Hasil penelusuran media ini menunjukkan bahwa pihak kepolisian telah menerbitkan surat rekomendasi terkait pelaksanaan kegiatan, khususnya untuk technical meeting sebelum lomba berlangsung.
Dalam rekomendasi tersebut, panitia diminta melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar penyelenggaraan berjalan sesuai ketentuan serta menjamin keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Konawe melalui Kepala Bidang Bina Marga, Asmar, juga membenarkan pihaknya telah mengeluarkan rekomendasi penggunaan ruas jalan kabupaten yang akan dijadikan lintasan balap.
Namun sorotan terbesar muncul dari sektor kesehatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe, Yones, mengungkapkan bahwa hingga sehari sebelum pelaksanaan, instansinya belum pernah menerima surat permohonan resmi dari panitia penyelenggara. Informasi yang diterima hanya disampaikan secara lisan.
“Kami tidak menerima surat resmi, hanya penyampaian secara lisan saja,” ujar Yones saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pola koordinasi panitia dengan instansi yang memiliki peran krusial dalam penanganan keadaan darurat.
Meski demikian, Yones memastikan Dinas Kesehatan tetap akan menjalankan tanggung jawabnya demi keselamatan masyarakat.
“Terkait masalah kesehatan itu tidak bisa ditawar-tawar. Dinkes akan menjadi pihak terdepan untuk itu,” tegasnya.
Ironisnya, hingga berita ini diterbitkan, panitia belum memberikan penjelasan mengenai standar keselamatan bagi rider maupun penonton, jumlah tenaga medis yang disiapkan, sistem evakuasi jika terjadi kecelakaan, maupun bentuk koordinasi lintas instansi selama kegiatan berlangsung.
Media ini juga telah berupaya meminta klarifikasi kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Konawe serta KONI Kabupaten Konawe. Namun hingga berita ini ditayangkan, keduanya belum memberikan tanggapan.
Penyelenggaraan event olahraga berskala besar tidak hanya diukur dari meriahnya perlombaan, tetapi juga dari tingkat transparansi, koordinasi antarlembaga, dan jaminan keselamatan seluruh pihak yang terlibat. Ketika komunikasi publik berjalan tertutup dan informasi sulit diakses, kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme penyelenggara ikut dipertaruhkan.
Sebagai bagian dari prinsip keberimbangan, media ini tetap membuka ruang hak jawab kepada panitia KCR Konawe Cup Race 2026 maupun pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi atas berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik.
Laporan Asman












