KOLTIM, Rubriksatu.com – Warga Desa Taore dan Desa Awiu, Kabupaten Kolaka Timur, mulai kehilangan kesabaran. Jalan penghubung yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas ekonomi kini berubah menjadi kubangan lumpur, tanpa tanda-tanda perbaikan dari pemerintah.
Kondisi jalan yang rusak parah ini bukan hal baru. Namun hingga kini, janji-janji perbaikan dari pemerintah daerah maupun para politisi yang pernah berkampanye di wilayah tersebut tak kunjung direalisasikan.
Warga menilai, perbaikan jalan hanya dijadikan alat meraih simpati saat kontestasi politik, tanpa keseriusan untuk menindaklanjutinya setelah kekuasaan diraih.
“Dulu saat kampanye, semua datang bawa janji. Katanya jalan ini jadi prioritas. Sekarang? Kami masih berkubang lumpur setiap hari,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Di lapangan, kondisi jalan terbilang ekstrem. Saat hujan turun, badan jalan berubah menjadi lumpur licin yang sulit dilalui. Kendaraan roda dua maupun roda empat kerap terjebak dan tak jarang harus didorong secara gotong royong oleh warga.
Situasi ini bukan hanya menyulitkan, tetapi juga membahayakan. Jalan yang menanjak dan licin meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara motor yang melintas setiap hari.
Ironisnya, jalan Taore–Awiu bukan sekadar akses lokal. Jalur ini merupakan penghubung strategis lintas wilayah yang menghubungkan Kabupaten Kolaka Timur, Kolaka, hingga Bombana. Selain itu, jalan tersebut menjadi akses utama bagi petani untuk mendistribusikan hasil pertanian ke pasar di Kecamatan Lambandia.
Akibat kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki, dampak ekonomi mulai terasa nyata.
Biaya angkut hasil panen melonjak karena kendaraan kesulitan melintas. Distribusi yang terhambat juga membuat kualitas hasil pertanian menurun, sehingga harga jual ikut terdampak.
Dalam kondisi seperti ini, warga menilai pemerintah daerah seolah abai terhadap persoalan mendasar yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
“Yang kami butuhkan bukan lagi janji atau kunjungan seremonial. Turunkan alat berat, perbaiki jalan ini. Itu saja,” tegas warga lainnya.
Masyarakat Taore dan Awiu mendesak Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur serta anggota DPRD untuk segera mengambil langkah konkret. Mereka menuntut realisasi, bukan retorika, agar akses jalan kembali layak dan roda ekonomi masyarakat dapat berjalan normal.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, warga khawatir ketimpangan pembangunan antarwilayah akan semakin lebar, sementara mereka tetap terjebak dalam persoalan klasik: jalan rusak yang tak pernah benar-benar ditangani.
Laporan Redaksi









