KOLTIM, rubriksatu.com – Potret perjuangan pendidikan kembali terlihat di wilayah perbatasan Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) dan Desa Mataosu Ujung, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Belasan pelajar rela mempertaruhkan nyawa dengan menerobos banjir demi tetap bisa bersekolah akibat tidak adanya jembatan permanen di wilayah tersebut.
Tak hanya para siswa, Sekretaris Desa (Sekdes) Awiu, Arman Ikramsyah, yang juga merupakan orang tua siswa, turut mendampingi anak-anak menyeberangi sungai yang meluap. Bahkan, ia harus menggendong para pelajar agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Sekolah yang menjadi tujuan para pelajar tersebut berada di Desa Awiu, yakni SMP Satap 2 Aere, SD 1 Awiu, dan TK Awiu. Sementara para siswa berasal dari Desa Mataosu Ujung yang harus melintasi sungai untuk menuju sekolah.
“Jadi kalau banjir datang dan meluap sampai membawa jembatan, terpaksa kami turun begini. Gendong anak menyebrangi sungai demi ke sekolah agar mereka tetap bisa belajar,” ungkap Arman Ikramsyah kepada media ini.
Ia menjelaskan, kondisi jembatan penghubung antara Desa Awiu, Kecamatan Aere, Kolaka Timur dan Desa Mataosu Ujung, Kabupaten Kolaka, kini sudah tidak bisa digunakan setelah diterjang luapan Sungai Poleang.
Menurutnya, masyarakat setempat sebenarnya telah berulang kali membangun jembatan darurat secara swadaya. Namun, jembatan sederhana itu selalu rusak dan hanyut setiap kali banjir datang.
“Kondisi jembatan perbatasan Desa Awiu dan Mataosu Ujung saat ini sudah tidak ada akibat luapan Sungai Poleang. Jembatan ini sudah beberapa kali kami bangun secara swadaya bersama masyarakat,” katanya.
Arman menyebut jalur tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung yang digunakan warga untuk beraktivitas, termasuk anak-anak sekolah dan para petani.
“Mengingat ini satu-satunya akses bagi masyarakat kami, terutama anak-anak sekolah yang harus bertaruh nyawa bila ingin ke sekolah, besar harapan kami agar ini menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat debit air mulai surut, warga biasanya kembali bergotong royong membangun jembatan darurat menggunakan papan seadanya agar para siswa dan masyarakat tetap bisa melintas.
Namun kondisi itu tidak bertahan lama. Ketika hujan deras kembali mengguyur dan sungai meluap, jembatan darurat tersebut kembali hanyut terbawa arus.
“Kalau air surut kami bikin jembatan papan supaya anak sekolah bisa lewat. Tapi kalau banjir datang, jembatan itu hanyut lagi,” tuturnya.
Perjuangan para pelajar itu juga terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Dalam video yang diterima media ini pada Sabtu (16/5/2026), terlihat sejumlah siswa berenang menembus arus banjir yang cukup deras sepulang sekolah menuju rumah mereka.
“Kami butuh bantuan Pak Prabowo,” ucap salah seorang siswa dalam video tersebut.
Kondisi ini membuat para pelajar di wilayah perbatasan harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap musim hujan demi mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar aktivitas pendidikan dan perekonomian masyarakat tidak lagi terganggu setiap kali banjir melanda kawasan tersebut.
Selain menjadi jalur utama bagi pelajar, akses penyeberangan itu juga digunakan masyarakat dan petani untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Hingga kini, masyarakat di wilayah perbatasan Kolaka Timur dan Kolaka masih menunggu perhatian serius pemerintah terkait pembangunan infrastruktur yang aman dan layak bagi warga.
Editor Redaksi











