Ekspedisi Latoma–Routa Tuntas, YA-SYAM Bidik Potensi Sejarah dan Wisata Konawe

KONAWE, rubriksatu.com – Setelah 14 hari menembus kawasan perbatasan Kecamatan Latoma dan Routa, sebanyak 27 anggota Tim Ekspedisi Latoma–Routa akhirnya kembali dengan selamat di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati Konawe, Sabtu (7/11/2026).

Kedatangan tim yang dipimpin Edi Lamambo di bawah komando Wakil Bupati Konawe, Syamsul Ibrahim, S.E., M.M., disambut langsung Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., bersama jajaran pemerintah daerah.

Ekspedisi tersebut bukan sekadar perjalanan menelusuri kawasan terpencil. Misi ini menjadi langkah awal Pemerintah Kabupaten Konawe menjajaki pembukaan akses jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Latoma dengan Routa, sekaligus menggali potensi sejarah, kebudayaan, dan pariwisata di wilayah tersebut.

Wakil Bupati Konawe, Syamsul Ibrahim, mengatakan hasil penelusuran selama 14 hari menjadi bahan penting bagi pemerintah daerah untuk mengkaji kemungkinan pembangunan jalur penghubung kedua kecamatan tersebut.

Namun, rencana pembukaan akses jalan itu membutuhkan koordinasi lintas instansi, terutama Kementerian Kehutanan, mengingat jalur yang direncanakan melintasi kawasan yang memerlukan persetujuan dan perizinan tertentu.

“Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah daerah harus segera berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan agar rencana pembukaan akses jalan bisa dilakukan,” ujarnya.

Menurut Syamsul, jika terealisasi, jalur Latoma–Routa tidak hanya akan memperpendek keterisolasian wilayah dan mempermudah konektivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi membuka kawasan baru untuk pengembangan pariwisata Konawe.

Sementara itu, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh anggota ekspedisi yang berhasil menyelesaikan perjalanan dan kembali dalam keadaan selamat.

Yusran menegaskan, ekspedisi tersebut memiliki misi yang lebih luas daripada sekadar mencari jalur alternatif pembangunan jalan. Pemerintah daerah juga ingin mengungkap potensi sejarah, kebudayaan, dan kekayaan alam yang selama ini belum banyak terdokumentasikan.

Karena itu, ia meminta seluruh hasil perjalanan, mulai dari kondisi geografis, kontur wilayah, jarak tempuh, hingga berbagai temuan sejarah dan peninggalan budaya, dihimpun serta didokumentasikan secara sistematis.

“Saya ingin semua hasil ekspedisi ini ditulis dan didokumentasikan. Jangan berhenti sampai di sini, karena ekspedisi ini bukan hanya mencari jalur untuk pembangunan jalan, tetapi juga merupakan ekspedisi kebudayaan,” tegas Yusran.

Ia mengungkapkan, selama perjalanan tim memperoleh sejumlah informasi mengenai cerita rakyat dan peninggalan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Bahkan, tim menemukan beberapa lokasi yang diduga memiliki nilai historis dan kebudayaan, di antaranya makam leluhur. Temuan tersebut dinilai perlu ditelusuri lebih jauh melalui kajian dan pendokumentasian agar tidak hilang ditelan waktu.

Selain jejak sejarah, kawasan yang dilalui tim juga menyimpan potensi wisata alam. Sejumlah objek alam, termasuk danau, menjadi bagian dari temuan ekspedisi yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru.

“Kebudayaan dan pariwisata merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Temuan-temuan selama ekspedisi ini harus kita eksplorasi lebih lanjut agar dapat memberikan manfaat bagi daerah,” ungkapnya.

Untuk menindaklanjuti hasil ekspedisi, Yusran meminta Wakil Bupati bersama tim ekspedisi dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera mengoordinasikan pengumpulan, pendokumentasian, serta pengolahan seluruh data perjalanan.

Pemerintah daerah juga akan berkoordinasi dengan instansi kehutanan dan perangkat daerah yang membidangi pekerjaan umum untuk mengkaji aspek teknis, administratif, serta kemungkinan pembukaan jalur alternatif Latoma–Routa.

Tak berhenti pada ekspedisi perdana, Yusran bahkan mengungkapkan rencana menggelar ekspedisi lanjutan pada 2027. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menelusuri lebih jauh potensi wilayah, baik dari sisi konektivitas, sejarah, kebudayaan, maupun pariwisata.

Di akhir sambutannya, Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh 27 anggota tim serta pihak-pihak yang telah mendukung keberhasilan ekspedisi tersebut.

Keberhasilan ekspedisi selama 14 hari ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi upaya membuka keterhubungan Latoma–Routa. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi momentum bagi Konawe untuk menggali kembali jejak sejarah, merawat warisan budaya, dan memetakan potensi wisata yang selama ini belum tersentuh secara maksimal.

Editor Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *