BOMBANA, rubriksatu.com — Ancaman kekeringan mulai menghantui petani di Kampung Adat Hukaea Laea, Dusun III, Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Debit sungai yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah terus menyusut. Kondisi tersebut membuat saluran irigasi yang dibangun secara swadaya masyarakat tak lagi berfungsi optimal.
Petani kini dihadapkan pada situasi sulit. Tanaman padi yang sudah terlanjur ditanam membutuhkan pasokan air, sementara sumber air yang menjadi tumpuan pengairan mulai mengering.
Salah seorang petani masyarakat adat Hukaea Laea, Bahrun, mengatakan kondisi tersebut membuat petani hanya bisa berharap hujan turun.
“Petani di Kampung Adat Hukaea Laea ini hanya berharap dengan hujan. Saluran yang kami buat secara swadaya tidak bisa digunakan karena debit sungai sudah terputus. Airnya mulai kering,” kata Bahrun kepada Rakyat Sultra, Kamis (13/8/2026).
Menurut Bahrun, dari sekitar 400 hektare lahan persawahan yang tersedia, saat ini baru sekitar 200 hektare yang dapat diolah oleh petani.
Kondisi tersebut semakin berat bagi petani yang telah lebih dahulu menanam padi. Mereka terpaksa menggunakan Alkon atau mesin pompa air untuk menyedot air dan mengalirkannya ke sawah.
Namun, penggunaan pompa air bukan menjadi jaminan tanaman dapat bertahan hingga panen.
“Sekarang yang sudah terlanjur menanam padi hanya mengandalkan Alkon untuk menyedot air. Itu pun tidak menjamin padi mereka bisa selamat,” ujarnya.
Kekhawatiran petani semakin besar karena sungai yang menjadi pusat pengambilan air juga mulai mengalami kekeringan.
“Apalagi kondisi air sungai yang menjadi pusat pengambilan air sudah mulai kering,” kata Bahrun.
Sudah Keluar Rp1,3 Juta Per Hektare
Kondisi kekeringan juga membuat petani yang telah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan terancam mengalami kerugian.
Petani lainnya, Jumahir, mengatakan dirinya telah mengeluarkan biaya sekitar Rp1,3 juta per hektare untuk mengolah sawah menggunakan alat jonder.
Namun, setelah lahan diolah, petani justru menghadapi persoalan ketersediaan air.
“Yang sudah dijonder sekitar 40 sampai 50 hektare. Tapi karena kondisi kekeringan, sawah itu dibiarkan saja,” ujar Jumahir.
Menurut dia, petani saat ini hanya bisa pasrah melihat kondisi lahan mereka. Biaya pengolahan yang sudah dikeluarkan tidak sebanding dengan kepastian produksi apabila sumber air terus mengering.
Di tengah ancaman kekeringan tersebut, masyarakat adat Hukaea Laea berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani.
Salah satu bantuan yang paling diharapkan adalah pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif untuk mengairi persawahan.
Petani menilai keberadaan sumur bor dapat menjadi solusi ketika debit sungai tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
“Yang sangat kami harapkan sekarang bantuan pemerintah, seperti pengadaan sumur bor. Itu yang sangat kami butuhkan untuk petani di Kampung Adat Hukaea Laea,” kata Jumahir.
Bagi masyarakat adat Hukaea Laea, persoalan air bukan hanya menyangkut keberlangsungan tanaman padi, tetapi juga menyangkut sumber penghidupan mereka.
Jika kekeringan terus berlangsung dan hujan tidak kunjung turun, petani khawatir tanaman yang telah ditanam akan mengalami kekurangan air dan berujung pada gagal panen.
Kondisi tersebut juga membuat lahan yang telah diolah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Petani berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan, terutama dengan menyediakan sumber air alternatif sebelum kondisi sawah semakin parah.
Di tengah sawah yang mulai mengering, petani Hukaea Laea kini berada dalam posisi sulit, biaya sudah dikeluarkan, tanaman sudah ditanam, tetapi air yang menjadi penentu hidup-matinya padi semakin sulit didapat.
Editor Redaksi






