Kendari Darurat Sampah? Jangan Biasakan Kota Kita Hidup di Tengah Tumpukan Sampah

​Sampah mungkin terlihat sebagai persoalan sepele: tinggal buang, lalu selesai. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap hari, gunungan limbah domestik terus bertambah. Jika terus dibiarkan tanpa pengelolaan yang mumpuni, sampah akan bertransformasi menjadi bom waktu yang mengancam kesehatan, lingkungan, hingga kenyamanan hidup kita.

​Ironisnya, pemandangan inilah yang mulai akrab di sudut-sudut Kota Kendari.

​Beberapa tahun terakhir, tumpukan sampah semakin mudah dijumpai di berbagai ruang publik. Mulai dari pinggir jalan protokol, kawasan permukiman, pasar, hingga destinasi umum. Bau menyengat, estetika kota yang kumuh, dan saluran air yang tersumbat menjadi menu keluhan harian masyarakat. Kondisi ini jelas bukan cerminan dari kota bertaqwa yang kita dambakan.

​Mengurai Benang Kusut: Bukan Sekadar Soal Perilaku

​Banyak pihak dengan mudah menuding bahwa pangkal masalah ini semata-mata karena rendahnya kesadaran warga yang membuang sampah sembarangan. Anggapan itu tidak salah, tetapi keliru jika kita berhenti pada kesimpulan tersebut. Persoalannya jauh lebih sistemik.

​Di satu sisi, ada faktor edukasi yang belum tuntas. Masih banyak warga yang belum menyadari efek domino dari sekantong sampah yang mereka lempar ke selokan—mulai dari banjir bandang, sarang penyakit, hingga pencemaran ekosistem pesisir Teluk Kendari.

​Di sisi lain, Pemerintah Kota Kendari juga dihadapkan pada tantangan urbanisasi yang masif. Pertumbuhan penduduk memicu lonjakan volume sampah dari sektor rumah tangga, pasar, perhotelan, hingga menjamurnya kawasan rumah kos.

​Sayangnya, laju produksi sampah ini belum mampu diimbangi oleh infrastruktur yang ada. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Puuwatu kini memikul beban yang kian berat setiap harinya. Keterbatasan armada pengangkut dan personel di lapangan membuat ritme penjemputan sampah sering kali terlambat, memicu penumpukan yang tak terhindarkan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

​Bergerak Bersama Sebelum Terlambat

​Jika ritme seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Kota Kendari akan benar-benar lumpuh akibat krisis sampah di masa depan. Namun, asa itu belum tertutup. Kota ini masih bisa diselamatkan asalkan ada sinergi konkret dari seluruh elemen.

​Bagi Pemerintah: Penguatan sistem hulu ke hilir adalah harga mati. Peremajaan dan penambahan armada angkutan, optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di tingkat kecamatan, serta perluasan jangkauan layanan kebersihan harus diprioritaskan. Edukasi ke masyarakat juga harus bertransformasi; bukan lagi sekadar spanduk formalitas, melainkan pendampingan langsung ke lapangan untuk mengajarkan habituasi memilah sampah dari dapur rumah.

​Bagi Masyarakat: Peran kita adalah kunci utama. Membatasi plastik sekali pakai, tertib membuang sampah pada jam yang ditentukan, serta memisahkan sampah organik dan anorganik adalah langkah kecil berdampak masif.

​Selain itu, revitalisasi program Bank Sampah di setiap kelurahan perlu digalakkan kembali. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, Bank Sampah bisa mengubah stigma limbah menjadi rupiah, sekaligus mereduksi volume sampah yang berakhir di TPA Puuwatu.

​Penutup: Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita

​Pada akhirnya, urusan sampah bukan melulu urusan dinas kebersihan atau petugas oranye di jalanan. Sampah yang menumpuk di kota ini adalah produk dari aktivitas kita setiap hari. Kota yang bersih tidak akan pernah terwujud selama kita masih memaklumi perilaku membuang sampah sembarangan sebagai hal yang biasa.

​Kendari adalah rumah kita bersama. Sudah saatnya kita merawat rumah ini agar tetap sehat dan layak huni. Indikator kota yang maju tidak boleh hanya diukur dari megahnya gedung-gedung atau aspal yang mulus, melainkan dari sejauh mana peradaban warganya peduli terhadap lingkungan.

​Mari mulai hari ini: pilah sampahmu dari rumah, buang pada tempatnya, dan ubah limbah menjadi sumber daya. Jika seluruh elemen kota mau bergerak bersama, Kendari yang bebas dari darurat sampah bukan lagi sekadar utopia, melainkan realitas yang bisa kita wujudkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *