KONAWE, rubriksatu.com — Informasi mengenai kondisi korban dugaan keracunan makanan di SMAN 20 Konawe kembali menjadi sorotan. Ketika Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Konawe menyebut seluruh siswa yang sempat mendapat perawatan telah pulang, seorang siswi bernama Alina justru masih menjalani perawatan di RS Setia Bunda.
Alina, siswi SMAN 20 Tongauna, masih mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami gangguan kesehatan pascakejadian yang dikaitkan dengan konsumsi makanan bergizi gratis (MBG).
Dokter UGD RS Setia Bunda, dr. Ilham Alhaq, yang didampingi Owner RS Setia Bunda, Hj. Yuli Patmawati, A.Mk., mengatakan Alina mengalami sesak, nyeri perut, mual, dan muntah. Pasien kemudian mendapat penanganan dari dokter anak.
“Dia ada nyeri perut, sama mual dan muntah satu kali. Sudah diberikan obat juga sama dokter anak. Langsung ditangani dokter anak,” jelas dr. Ilham.
Ilham menyebut kondisi Alina memerlukan penanganan lebih serius dibandingkan pasien lainnya. Alina memiliki riwayat alergi, gangguan lambung, serta asma yang dapat menjadi faktor pemicu kondisi yang dialaminya.
“Sampai sekarang masih pakai oksigen, ada riwayat asma,” ungkapnya Jumat (25/9/2026).
Kata dia, Alina berpotensi menjalani perawatan selama sekitar satu minggu. Namun, lama perawatan masih bergantung pada perkembangan kondisi pasien dan keputusan dokter anak.
“Anak ini kemungkinan dirawat satu mingguan. Itu tergantung lagi dengan dokter anak dan kondisi pasien,” ujarnya.
Alina, kata dia, langsung dirujuk ke RS Setia Bunda karena kondisinya dinilai berbeda dibandingkan sejumlah siswa lainnya.
BGN Sebut Semua Sudah Pulang
Pernyataan pihak rumah sakit tersebut berbeda dengan keterangan Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Konawe, Novry Al Ikmansah.
Novry sebelumnya menyampaikan bahwa seluruh siswa yang sempat mendapat penanganan medis telah membaik dan tidak ada lagi yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
“Alhamdulillah sudah membaik. Yang dirawat sudah tidak ada. Yang di puskesmas juga tadi malam sekitar pukul 22.00 WITA sudah pulang dan dirawat di rumah masing-masing,” ujar Novry.
Novry mengatakan pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa yang telah diperbolehkan pulang.
Pemantauan tersebut, kata dia, dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab untuk memastikan kondisi kesehatan siswa benar-benar pulih pascakejadian dugaan keracunan.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut dan memastikan BGN akan melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Tentunya akan dilakukan evaluasi dan perbaikan,” katanya.
Satu Korban Masih Dirawat
Di tengah pernyataan tersebut, kondisi Alina di RS Setia Bunda menunjukkan bahwa setidaknya berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, masih terdapat korban yang menjalani perawatan.
Bahkan, Alina disebut masih membutuhkan oksigen dan penanganan dokter anak.
Perbedaan informasi tersebut menjadi penting untuk diklarifikasi agar kondisi seluruh korban dapat diketahui secara akurat dan tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat maupun keluarga siswa.
Terlebih, kejadian ini melibatkan puluhan siswa dan guru SMAN 20 Konawe yang sebelumnya mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah penanganan dan evaluasi, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tongauna-Asao untuk sementara waktu disuspend.
Penghentian sementara tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan layanan pemenuhan gizi, termasuk memastikan prosedur dan standar keamanan pangan kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, hingga kini penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan masih adanya korban yang menjalani perawatan, perhatian kini tidak hanya tertuju pada pemulihan para siswa, tetapi juga pada kejelasan informasi mengenai kondisi seluruh korban serta hasil pemeriksaan yang dapat menjelaskan penyebab kejadian tersebut.
Pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh menjadi penting agar dugaan kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kepercayaan terhadap pelaksanaan program MBG tetap terjaga.
Editor Redaksi












