KENDARI, rubriksatu.com – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya ilmiah di kalangan mahasiswa melalui penyelenggaraan Kompetisi Esai Ilmiah Nasional (KEIN) VII Tahun 2026.
Mengusung tema “Peran Mahasiswa dalam Menjaga Ekosistem Laut”, kompetisi yang digelar selama dua hari di Hotel Horison Kendari ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk menyampaikan gagasan ilmiah dan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan kelautan dan perikanan di Indonesia.
Lebih dari sekadar ajang perlombaan, KEIN VII menjadi ruang akademik yang mendorong lahirnya mahasiswa yang kritis, kreatif, serta mampu menawarkan solusi berbasis riset terhadap tantangan pengelolaan sumber daya laut yang semakin kompleks.
FPIK UHO memandang kompetisi ini sebagai bagian dari upaya membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir analitis, menyusun argumentasi ilmiah, dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
KEIN kini memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2020. Selama pandemi Covid-19, kompetisi ini berlangsung secara daring selama tiga tahun berturut-turut. Memasuki 2023, penyelenggaraan dilakukan secara hybrid sebelum kembali digelar sepenuhnya secara luring mulai 2024 hingga 2026.
Konsistensi tersebut menunjukkan komitmen FPIK UHO dalam menjaga keberlangsungan forum ilmiah bagi mahasiswa di tingkat nasional.
Selama tujuh tahun pelaksanaannya, KEIN telah diikuti sedikitnya 47 perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara.
Pada penyelenggaraan tahun ini, KEIN VII diikuti 173 mahasiswa dari 17 perguruan tinggi yang mengirimkan 61 karya esai ilmiah.
Karya-karya tersebut mengangkat beragam isu strategis, mulai dari pengelolaan sumber daya perairan, budidaya perikanan, ketahanan ekonomi nelayan, hingga pengelolaan wilayah pesisir.
Melalui proses seleksi yang menilai kesesuaian tema, orisinalitas gagasan, serta kualitas akademik, panitia menetapkan 23 karya terbaik untuk melaju ke babak presentasi tingkat nasional.
Pembukaan KEIN VII dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UHO, Dr. Herman, S.H., L.L.M. dikesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata melalui pemikiran ilmiah.
Menurutnya, kompetisi seperti KEIN menjadi sarana efektif untuk membangun budaya berpikir kritis, memperkuat karakter akademik, sekaligus melatih mahasiswa menyampaikan gagasan secara sistematis dan berbasis data.
Sementara itu, Dekan FPIK UHO Prof. Asriyana, S.Pi., M.Si., mengatakan keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur dari nilai akademik di ruang kuliah, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan ide yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Melalui KEIN, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar berdiskusi, menerima masukan dari dewan juri, bertukar pengalaman dengan mahasiswa dari berbagai daerah, serta membangun jejaring akademik yang akan bermanfaat di masa depan,” ungkapnya Senin (3/8/2026).
Ketua Panitia KEIN VII, Dr. Dedy Oetama, S.Pi., M.Si., menambahkan bahwa tujuan utama penyelenggaraan kompetisi ini adalah meningkatkan wawasan keilmuan, mendorong prestasi mahasiswa di tingkat nasional, sekaligus membentuk karakter ilmiah generasi muda.
Selain presentasi ilmiah, para peserta juga mengikuti berbagai kegiatan yang memperkuat kolaborasi antarmahasiswa, termasuk field trip ke Pulau Bokori.
Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat potensi ekosistem pesisir Sulawesi Tenggara sekaligus mempererat jejaring akademik lintas perguruan tinggi.
Di tengah tantangan pembangunan sektor kelautan yang semakin kompleks, KEIN VII menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi muda yang mampu berpikir lintas disiplin, berkolaborasi, dan menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya, KEIN tidak lagi sekadar menjadi kompetisi esai, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan penguatan budaya ilmiah yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia untuk bersama-sama membangun masa depan kelautan nasional.
Editor Redaksi












