KONAWE, rubriksatu.com — DPRD Kabupaten Konawe meminta pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperketat menyusul gangguan kesehatan yang dialami 59 orang di SMAN 20 Konawe, Kecamatan Tongauna.
Dari jumlah tersebut, 58 merupakan siswa dan satu lainnya guru. Mereka sempat mendapatkan penanganan medis di RSU Setia Bunda dan RSUD Konawe setelah mengalami gangguan kesehatan pada Kamis (24/9/2026).
Ketua DPRD Konawe, I Made Asmaya, S.Pd., M.M., meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tongauna-Asao menghentikan sementara operasionalnya hingga proses evaluasi dan pemeriksaan terkait kejadian tersebut selesai.
“SPPG yang mengalami masalah itu belum sempat dikunjungi anggota dewan,” kata I Made Asmaya.
Menurutnya, DPRD Konawe sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah kepada seluruh anggota untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap SPPG yang berada di masing-masing daerah pemilihan.
Pengawasan, kata dia, tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang telah siap didistribusikan, tetapi juga mencakup seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari rantai pasok bahan baku hingga proses distribusi.
“DPRD harus memastikan dari rantai pasok atau proses supply bahan makanan, persiapan, memasak, packing dan distribusi harus sesuai prosedur yang ditetapkan BGN,” jelasnya.
Namun, sebelum seluruh rangkaian sidak tersebut selesai dilaksanakan, gangguan kesehatan terjadi pada siswa dan guru di SMAN 20 Konawe.
I Made Asmaya mengatakan DPRD akan mengambil langkah lanjutan dengan memanggil pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MBG untuk mengetahui rangkaian kejadian dan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Kami akan memanggil mitra dan stakeholder yang terlibat untuk dimintai keterangan, sehingga dapat diketahui apa yang menjadi penyebab utama siswa mengalami gangguan kesehatan tersebut,” ujarnya.
Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan, mulai pemasok, ahli gizi, petugas dapur hingga bagian pengemasan, menjalankan prosedur keamanan pangan secara konsisten.
Menurutnya, makanan yang akan disalurkan kepada siswa harus dipastikan memenuhi standar kelayakan konsumsi sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
I Made Asmaya turut menyampaikan permohonan maaf secara pribadi maupun atas nama DPRD Konawe kepada para siswa dan keluarga yang terdampak. Ia memastikan lembaga legislatif akan menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Konawe.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) telah memeriksa dua sampel makanan yang berkaitan dengan menu MBG yang diterima SMAN 20 Konawe.
Plt. Kepala Dinkes Konawe, Yones, S.E., M.M., mengatakan dua sampel tersebut masing-masing berasal dari dapur SPPG Tongauna-Asao dan makanan yang telah diterima di sekolah.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan bakteri pada sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao. Sementara pada sampel makanan yang diambil dari sekolah, ditemukan kandungan bakteri coliform dan Escherichia coli (E. coli).
“Dua sampel makanan yang diuji, satu dari dapur SPPG Tongauna-Asao dan satu dari sekolah. Hasilnya, sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao nol bakteri. Sedangkan sampel makanan dari sekolah ditemukan 3.500 bakteri coliform dan 150 E. coli pada kuah bakso, kemudian 3.000 bakteri coliform dan 140 bakteri E. coli dari pentol bakso,” jelas Yones.
Temuan laboratorium tersebut menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Konawe bersama BGN dan instansi terkait untuk memperkuat pengawasan, khususnya terhadap aspek keamanan dan mutu makanan dalam pelaksanaan MBG.
Sekretaris Daerah Konawe, Dr. Ferdinand, S.P., M.H., selaku Ketua Satgas MBG Kabupaten Konawe, menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut sebagai bagian dari keterbukaan informasi kepada masyarakat.
Ferdinand juga menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa dan keluarga yang terdampak.
“Atas nama pemerintah daerah dan selaku Ketua Satgas MBG Kabupaten Konawe, kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan para siswa yang terdampak atas kejadian tersebut,” ujar Ferdinand.
Pemerintah Kabupaten Konawe selanjutnya akan memperkuat koordinasi dengan BGN dan pihak terkait untuk memastikan pelaksanaan program MBG berjalan dengan memperhatikan keamanan pangan, mutu makanan, serta kesehatan para penerima manfaat.
Editor Redaksi






