KONAWE, rubriksatu.com – Kepala Puskesmas (Kapus) Tongauna kini menjadi sorotan setelah viralnya video keluhan warga terkait dugaan penggunaan mobil pikap untuk merujuk seorang pasien yang hendak melahirkan di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Persoalan ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan ambulans, koordinasi petugas, dan tanggung jawab pengelolaan pelayanan rujukan di fasilitas kesehatan tersebut.
Video yang diunggah melalui akun Facebook Askun Korex itu memperlihatkan seorang pria meluapkan kekecewaannya terhadap pelayanan Puskesmas Tongauna. Ia mempertanyakan keputusan membawa pasien menggunakan mobil pikap, sementara ambulans disebut tersedia di puskesmas tersebut.
“Masa pasien rujukan mau dikasih pindah di mobil pikap? Bahaya, Puskesmas Tongauna, sementara mobil ambulans puskesmas ada,” ujar pria tersebut dalam rekaman video.
Keluhan itu bukan sekadar persoalan jenis kendaraan. Jika benar pasien yang hendak melahirkan harus dirujuk menggunakan mobil pikap karena ambulans tidak dapat digunakan, kondisi tersebut patut mendapat penjelasan terbuka dari pihak puskesmas, terutama mengenai kesiapan sarana transportasi medis ketika pasien membutuhkan penanganan lanjutan.
Dalam video yang beredar, pria tersebut juga mengungkapkan bahwa ambulans tidak dapat digunakan dengan alasan terkait kunci kendaraan.
“Bagaimana ini penanganan Puskesmas Tongauna? Kita orang Kelurahan Tongauna baru dikasih begini. Mobil ada, alasan kunci lagi. Mau kasih naik di mobil pikap, bisa kah oksigen naik di depan? Terpaksa pasien kita paksa naik di belakang,” katanya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: jika ambulans memang tersedia, mengapa kendaraan itu disebut tidak dapat digunakan saat pasien membutuhkan rujukan? Apakah terdapat kendala teknis, persoalan administrasi, masalah koordinasi petugas, atau faktor lain yang menyebabkan kendaraan medis tersebut tidak bisa dioperasikan?
Pertanyaan itu perlu dijawab secara terbuka oleh manajemen Puskesmas Tongauna. Kapus sebagai pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan perlu memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian, kesiapan ambulans, serta prosedur yang diterapkan ketika menghadapi pasien yang membutuhkan rujukan segera.
Pasien yang hendak melahirkan bukan pasien yang kondisinya dapat diperlakukan secara sembarangan. Kebutuhan transportasi dan penanganan selama perjalanan harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, termasuk potensi keadaan darurat yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Karena itu, apabila dugaan dalam video tersebut benar, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan penjelasan singkat mengenai kendala kendaraan. Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan layanan rujukan, sistem koordinasi petugas, dan mekanisme pemeliharaan serta pengoperasian ambulans agar kejadian serupa tidak terulang.
Publik juga berhak mengetahui apakah prosedur rujukan telah dijalankan sesuai ketentuan dan apakah alternatif transportasi yang digunakan ketika itu benar-benar mempertimbangkan keselamatan pasien.
Meski demikian, video yang beredar belum cukup untuk memastikan seluruh kronologi kejadian. Kondisi medis pasien saat itu, alasan pasti ambulans tidak digunakan, jenis penanganan yang dibutuhkan, serta keputusan petugas di lapangan masih memerlukan verifikasi.
Kapus Tongauna perlu memberikan klarifikasi agar persoalan ini tidak berhenti sebagai polemik di media sosial. Penjelasan resmi dibutuhkan untuk menjawab keluhan warga sekaligus memastikan apakah pelayanan rujukan telah berjalan sesuai standar yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak Puskesmas Tongauna terkait video viral tersebut. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi mengenai kronologi kejadian, alasan ambulans tidak digunakan, serta langkah evaluasi yang akan dilakukan pihak puskesmas.
Editor Redaksi






