KENDARI, rubriksatu.com – Suara puisi, gerak tari, hingga pertunjukan teater berpadu dalam satu panggung. Gedung Teater Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda dalam gelaran Laskar Sastra (Lastra) Fest 2026, Jumat (6/11/2026).
Mengusung tema Generasi Muda Bersuara dalam Sastra (Gemarasa), kegiatan ini sukses menghadirkan beragam pertunjukan seni yang memikat perhatian penonton.
Lastra Fest menyuguhkan berbagai genre pertunjukan, mulai dari tari, teatrikal, drama bertajuk “Seribu Sunia”, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga dramatisasi puisi.
Setiap penampilan tidak sekadar menjadi ajang unjuk kreativitas. Lebih dari itu, panggung Lastra Fest menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, keresahan, serta merefleksikan peran sastra dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ketua Panitia Lastra Fest, Lilis Wahyuni, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, menjadi bagian dari penyelenggaraan Lastra Fest merupakan pengalaman berharga. Proses persiapan hingga pelaksanaan memberinya banyak pelajaran, mulai dari kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga kemampuan menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang telah memberikan dukungan serta berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Laskar Sastra, Azman Zulzaman, mengatakan Lastra Fest merupakan salah satu upaya organisasi dalam menyediakan ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya dan mengembangkan kreativitas melalui sastra.
Melalui tema Gemarasa, ia berharap anak muda semakin berani menyuarakan pemikiran, keresahan, dan pandangan mereka melalui karya sastra.
Apresiasi juga disampaikan Dewan Penasihat Laskar Sastra, La Ode Sahidin, S.Pd., M.Hum. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai wadah pembelajaran, kreativitas, sekaligus pengembangan potensi mahasiswa, khususnya di bidang kesastraan.
Melalui Lastra Fest 2026, Laskar Sastra ingin menegaskan bahwa generasi muda memiliki ruang dan suara untuk menyampaikan gagasan melalui seni dan sastra.
Sebab, sastra bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis di atas kertas. Di dalamnya ada keberanian untuk bersuara, kebebasan untuk berkarya, dan kemampuan memberi makna bagi kehidupan. (red)






