JAKARTA, rubriksatu.com – Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, kembali mendapat mandat strategis dari Bank Dunia. Ia ditunjuk sebagai Independent Co-Chair untuk proses pengisian kembali dana International Development Association (IDA) putaran ke-22 atau IDA22.
Penunjukan tersebut diumumkan Bank Dunia pada 3 Agustus 2026 setelah Sri Mulyani terpilih melalui proses seleksi yang dilakukan komite pencarian yang terdiri atas perwakilan negara donor dan negara peminjam.
Dalam posisi tersebut, Sri Mulyani akan memimpin proses replenishment IDA22 bersama Managing Director sekaligus Chief Knowledge Officer World Bank Group, Paschal Donohoe.
Keduanya akan mendorong penguatan dukungan kebijakan dan komitmen pendanaan dari negara-negara donor maupun negara penerima manfaat.
IDA merupakan salah satu sumber pembiayaan utama Bank Dunia bagi negara-negara berpendapatan rendah. Lembaga tersebut menyediakan pembiayaan dengan bunga rendah atau tanpa bunga serta hibah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, peningkatan ketahanan, dan pengurangan kemiskinan.
Melalui siklus IDA22, Bank Dunia akan menentukan besaran pembiayaan konsesional yang tersedia bagi 78 negara hingga 2031. Proses tersebut akan resmi diluncurkan melalui Mid-Term Review di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026, sedangkan pertemuan final untuk penyampaian komitmen pendanaan dijadwalkan pada Desember 2027.
Sejak berdiri pada 1960, IDA telah menyalurkan lebih dari US$632 miliar untuk investasi di 115 negara. Program pembiayaan IDA diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk pertumbuhan ekonomi, penguatan ketahanan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penunjukan tersebut sekaligus menandai kembalinya Sri Mulyani dalam peran kepemimpinan di lingkungan Bank Dunia setelah sebelumnya menjabat sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer lembaga tersebut.
Bank Dunia menyebut Sri Mulyani sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengalaman luas dalam pembiayaan pembangunan internasional. Pengalamannya mencakup kebijakan fiskal, pembangunan, serta pengelolaan pembiayaan multilateral.
Sri Mulyani sendiri sebelumnya pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan kemudian bergabung dengan Bank Dunia pada 2010. Ia kembali ke pemerintahan Indonesia pada 2016 dan kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan hingga pergantian posisi tersebut pada 2025.
Kini, melalui mandat baru di IDA22, Sri Mulyani akan terlibat dalam proses yang menentukan arah dan besaran dukungan pembiayaan konsesional bagi negara-negara berpendapatan rendah.
Tantangan pembiayaan pembangunan menjadi salah satu perhatian utama dalam proses IDA22. Negara-negara berpendapatan rendah menghadapi kebutuhan pembiayaan untuk berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, penguatan ketahanan, serta pengurangan kemiskinan.
Karena itu, proses replenishment IDA bukan sekadar menghimpun dana baru, tetapi juga menjadi forum bagi negara donor dan peminjam untuk meninjau kebijakan serta menentukan dukungan pembiayaan untuk periode berikutnya.
Dengan pengalaman di bidang pembiayaan pembangunan dan lembaga multilateral, Sri Mulyani akan menjalankan fungsi sebagai ketua bersama independen dalam proses tersebut.
Bagi Indonesia, keterlibatan Sri Mulyani dalam agenda IDA22 juga menempatkan seorang tokoh Indonesia dalam salah satu proses penting pembiayaan pembangunan internasional.
Namun, mandat tersebut pada dasarnya merupakan peran dalam proses pengisian kembali dana IDA22, bukan posisi sebagai pimpinan Bank Dunia secara keseluruhan. Bank Dunia tetap dipimpin oleh struktur kepemimpinan tersendiri.
Editor Redaksi






